BERGERAK NETES BUKTIKAN

(MENJAGA MUNZALAN MENJAGA RUMAH KITA SENDIRI )

 

Beberapa waktu yang lalu ada bahan menarik untuk jadi bahan  diskusi dan bahan pikiran pribadi.

Tentang bagaimana orang lain mengenal dan memahami Pondok kita ini (Pondok Modern Munzalan Ashabul Yamin) atau lebih dikenal dengan Pondok Munzalan

Pada kesempatan ini izinkan kami untuk menjelaskannya. Kami berharap penjelasan ini dapat menyamakan cara pandang kita dalam memahami Pondok kita tercinta Pondok Munzalan.

Diantara kita, mungkin masih ada yang bingung memahami Pondok kita ini. Pondok kita ini memang memiliki berbagai kegiatan. Kegiatannya tidak seperti kegiatan kegiatan yang dilaksanakan oleh pondok pesantren pada umumnya. Beberapa kegiatannya bahkan mendekati karakter kegiatan lembaga-lembaga filatropis seperti Rumah Zakat atau ACT.  Jadi PMMAY itu sebenarnya pesantren atau LSM sih?

Pada kesempatan kami ingin menegaskan bahwa PMMAY, Pondok kita ini bukanlah LSM, bukanpula lembaga filantropis seperti seperti Rumah Zakat atau ACT.  Namun, PMMAY adalah sebuah pesantren. Sekali lagi PMMAY adalah pesantren.

Walaupun demikian, namun Pondok kita ini bukanlah pesantren biasa. Melainkan pesantren Istimewa. Dimanakah letak keistimewaan Pondok kita? Keistimewaan Pondok kita ini akan kita bahas dalam serial kedua Kemunzalanan. Kali ini kami ingin focus menjelaskan terlebih dahulu tentang apa itu pesantren, juga tentang apa itu pondok, Kyai dan istilah santri

Pondok dan pesantren adalah dua kata yang berbeda, tapi kedua kata itu memiliki arti harfiah yang sama, yaitu tempat tinggal.  Bedanya, kata pondok berasal dari bahasa arab yaitu funduk yang berarti penginapan. Sementara kata pesantren berasal dari serapan bahasa sangsekerta yaitu pe-santri-an yang berarti tempat tinggal santri. Secara terminologis, istilah pondok dan istilah pesantren memiliki makna yang sama, yaitu sebuah kawasan yang dijadikan tempat bagi para santri untuk belajar kepada seorang ahli agama yang disebut dengan kyai. Lalu siapakah yang disebut dengan santri?

Secara umum santri adalah sebutan bagi seseorang yang belajar agama Islam di pesantren. Namun menurut asalnya, istilah santri itu berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu “shastri” yang memilikiakar kata yang sama dengan kata sastra yang berarti kitab suci, atau agama atau  pengetahuan. Ada pula yang mengatakan bahwa santri berasal dari kata cantrik yang berarti para pembantu begawan atau resi. Di era Hindu Nusantara, seorang cantrik mendapatkan asupan berupa ilmu pengetahuan oleh begawan atau resi tersebut. Sementara Santrinya membantu begawan atau resi dalam mengelola berbagai hal dalam bidang pendidikan, sosial dan ekonomi. Kata santri terkadang juga dianggap sebagai gabungan antara kata saint yang berarti manusia baik dengan suku kata tra yang berarti suka menolong. Kesimpulannya, santri itu adalah seseorang yang belajar kepada seorang ahli agama yang sebut Kyai, di sebuah tempat yang tetap dan memiliki karakter suka menolong.  Oleh karena itu sebuah pesantren memiliki tiga unsur yang tak dapat dipisahkan, yaitu Kyai, santri, serta tempat tinggal para santri. Nah, sebuah kawasan yang memiliki ke tiga unsur inilah yang disebut dengan pesantren.

Nah PMMAY memiliki ketiga unsur tadi. Ada Kyainya, yaitu Gurunda Ustadz Luqmanulhakim ada santrinya, ada tempat tinggal dan tempat beraktivitas santrinya. Sehingga jelaslah,  bahwa PMMAY ini adalah pesantren, bukan LSM, bukan pula ormas.

Selanjutnya kami ingin menjelaskan tentang siapa saja sih elemen-elem yang berkiprah di Pondok kita ini? Yaitu tentang siapa Kyainya, siapa gurunya, dan siapa santrinya.

Dalam hal pengajaran ilmu agama, Kyai kita tidak sendiri, tapi dibantu pula oleh guru-guru dan ustadz-ustadz lainnya. Ada Gurunda H.M. Nur Hasan, ada Gurunda Beny Sulastyo, ada Gurunda Adi Pratama Larisindo, ada pula Ustadz Ahyar, Ada Ustadz Sudar, ada Ustadz Andika, ustadz Adia, ustadz Imam Muttaqien, Ada Bu Nyai Uunk, ada Ustadzah Bunda Yaya, Ustadzah Bunda Tuti, dan belasan ustadz dan ustadzah lainnya yang mengajar di berbagai Lembaga Pendidikan yang kita kelola.

Sementara ada beberapa ratusan santri-santri dari Gurunda Ustadz Luqmanulhakim diamanahi untuk mengelola Lembaga-lembaga non Pendidikan seperti Baitulmaal, Gerakan Infaq Beras dan usaha-usaha pondok yang lain yang selanjutnya kita sebut dengan Santri Penerima Amanah.

Sebelum berdirinya Pondok kita ini, aktivitas pengajaran agama islam oleh Gurunda Ustadz Luqmanuhakim sudah dilakukan di Masjid ini. Dan hingga saat PMMAY didirikan pada bulan Juni tahun 2014, Gurunya tetap sama, yaitu Ustadz Luqmanulhakim. 

Berdirinya PMMAY adalah ikhtiar bersama antara Ustadz Lqmanulhakim dan para santri beliau untuk mengembangkan aktivitas pendidikan agama Islam secara lebih terorganisir. Maka sejak berdirinya Pondok ini, fungsi Gurunda Ustadz Luqmanulhakim  bertambah. Dari semula hanya seorang guru, bertambah menjadi Kyai dari sebuah pesantren.

Setelah berdirinya PMMAY, para santri beliau membagi tugas. Gurunda H.M. Nurhasan, Gurunda Beny Sulastyo, Gurunda Adi Pratama bertugas membantu sebagai Pimpinan yang bertugas pada aspek manajerial.  Sementara santri-santri yang lain ada yang membantu mengelola KB/ TK PAS AY, ada yang mengelola Baitulmaal, ada yang mengelola program Infaq Beras, ada yang mengelola Masjid, dsb. Dan diantara para santri itu ada yang tetap konsisten mengabdi di Pondok kita hingga saat ini, adapula yang berhenti.

Saat aktivitas belajar mengajar di PMMAY semakin berkembang, semakin banyak pula yang belajar dengan Kyai kita di Munzalan ini. Mereka yang belajar kepada Kyai kita ini sejatinya adalah santri juga. Walaupun istilah itu tidak pernah kita gunakan kepada sahabat-sahabat yang menghadiri majelis-majelis pengajian yang diasuh oleh Kyai kita.

Para santri ini lalu direkrut oleh Pengasuh dan Pimpinan untuk turut serta mengelola berbagai lembaga pendidikan dan lembaga dakwah milik pondok.  Maka sejak dari awal hingga saat ini semakin jelas bahwa PMMAY itu adalah pesantren. Karena ada kyainya dan yang mengelola pesantren ini adalah para santri, bukan karyawan.

Sebelumnya kami menyampaikan kepada Abang dan Kakak, bahwa PMMAY adalah Pesantren tapi bukan pesantren biasa. Melainkan pesantren yang Istimewa. Dimanakah letak keistimewaannya?

Keistimewaan Pondok kita adalah pondok kita tak sekedar fokus pada pengajaran ilmu agama saja, tapi mengajarkan tentang spiritualitas.

Abang Kakak di Rahmati Allah, spirit adalah energi gerak. Istilah spirit berasal dari bahasa Yunani yaitu spiritus. Spiritus adalah benda yang digunakan untuk menghidupkan dan menyalakan api. Api ini banyak fungsinya bagi kehidupan manusia. Api menerangi kegelapan. Api melindungi manusia dari binatang buas. Api membuat kita aman dan nyaman saat menikmati makanan. Api digunakan untuk mempertahakan diri dan menyerang. Api menggerakan mesin-mesin raksasa. Nah Pondok kita adalah pondok yang tak hanya mengajarkan ilmu agama saja, tapi juga mengajarkan ummat untuk ber-gerak, ber- spiritualitas, berenergi dan menerangi dan memiliki kemanfaatan bagi ummat manusia.

Di Pondok kita ini para sahabat tak hanya mampu terus bergerak saja, tapi telah mampu pula menggerakkan potensi ummat.

Abang Kakak rahimakumullah, bukti bahwa pondok kita ini bergerak terus adalah bahwa pondok kita hari ini sudah tak sama lagi dengan pondok kita 5-6 tahun yang lalu. Lembaga dakwah bertambah banyak, Gedung-gedung bertambah banyak, kendaraan bertambah banyak, fasilitas dakwah bertambah banyak, guru-guru kita bertambah banyak, jumlah personil pengelola Lembaga bertambah banyak, kegiatan bertambah banyak, dsb. Kita yang sedang berada di dalam, mungkin tak terasa bahwa pondok kita sedang bergerak maju. Tak hanya bergerak maju, tapi bergerak dengan laju.

Bukti bahwa pondok kita ini juga mampu menggerakkan potensi ummat adalah kita bisa mengajak sangat banyak orang untuk terlibat bersama-sama dalam gerakan amal sholeh yang terorganisir dan berkesinambungan. Coba perhatikan, dulu beras yang berhasil dikumpulkan maksimal hanya 1 ton beras saja ber bulannya. Tapi sekarang sudah mencapai 400 ton lebih tiap bulannya. Mengapa bias bertambah demikian banyak?

Karena Gurunda kita, Ustadz Luqmanulhakim dan Ustad Adi Pratama mampu mengajak para sahabat muda di seluruh Indonesia untuk melakukan Gerakan yang serupa. Hasilnya, saat ini ada sekitar 2000an orang lebih yang terlibat dalam Gerakan infak beras. Padahal dulu yang terlibat hanya belasan orang saja.

Bergerak dan menggerakkan. Kata Gurunda kita Ustadz Luqmanulhakim. Inilah yang disebut Spiritualitas. Dan Spiritualitas inilah keistimewaan dari pondok kita ini.

Abang Kakak yang dirahmati Allah. Saat ini sudah tak ada lagi lembaga dakwah baru yang memproduksi spirit. Saat ini memang banyak lembaga yang secara material lebih hebat dari pondok kita,  tapi mereka tak bisa bergerak, tak bisa menggerakkan. Mau lembaga pendidikan, lembaga sosial, lembaga politik, bahkan lembaga keagamaan. Mereka hanya jalan ditempat bahkan banyak yang keberadaannya hanya merusak sesama. Mengapa? Karena mereka tidak memiliki spirit. Lembaga-lembaga itu tak punya spiritus sebagaimana yang dimiliki oleh pondok kita.

Di Pondok ini, Kyai kita dan para guru kita tak hanya mengajarakan tentang nilai dan ilmu agama saja. Tapi juga menginfuskan spiritualitas ke dalam jiwa kita. Yang mana dengan asupan spiritualitas itu, kita semua kemudia bisa bergerak lebih kuat dari pada orang lain. Kita semua bisa bergerak lebih keras dan lebih luas dari pada orang lain.

Mari terus belajar, terus bergerak, terus menggerakkan dan bertumbuh Bersama. Ayo kita bangun terus Pondok kita. Mari doakan Kyai kita, para Pimpinan, para Direktur dan seluruh pengelola Pondok agar tetap diberikan kesehatan. Alfaaatehah

Akhirnya selama masa sosial distancing, Kami para pimpinan dan direktur telah berpikir keras untuk memperbaiki tata kelola pondok kita. Hal ini perlu dilakukan kita lakukan untuk memantapkan fondasi manajemen pondok kita.

Sebagaimana yang sudah kami singgung pada materi sebelumnya, saat ini pondok kita sedang berkembang dengan pesat. Perkembangan itu tentu saja harus diiringi dengan perbaikan-perbaikan tata pengelolaan.

Selama 5 tahun belakangan perbaikan itu terus dilakukan oleh pimpinan. Banyak perubahan-perubahan besar yang tak terasa telah kita lakukan. Termasuk merombak formasi personil yang telah kita lakukan beberapa bulan yang lalu.

Nah sejak tanggal 23-27 maret yang lalu, Pimpinan dan para direktur amal sholeh berkesempatan untuk merumuskan berbagai perbaikan tata pengelolaan pondok kita agar semakin baik lagi. Ada beberapa point penting yang telah diputuskan melalui Surat Keputusan Pimpinan yang ditandatangani pada tanggal 27 Maret yang lalu. Diantaranya adalah:

  1. Pertama kita akan membentuk 2 badan hukum lagi yang akan memayungi 2 aktivitas amal sholeh. Yang pertama, Yayasan Pondok Modern Munzalan Ashabul Yamin yang akan menaungi legalitas seluruh lembaga amal pendidikan. Yang kedua sebuah badan usaha dalam bentuk Perseoran Terbatas atau PT yang akan menaungi legalitas semua amal usaha milik Pondok. Sementara Yayasan Baitulmaal Munzalan Indonesia akan fokus menaungi lembaga amal sosial yaitu BMI, Paskas, GIB, Rumah Sehat Munzalan dan Indonesia Berwaqaf.
  2. Keputusan Kedua adalah pembentukan Stafsus Pimpinan. Atau Staf khusus pimpinan. Stafsus ini adalah alat kelengkapan manjemen bagi pimpinan. Misi utama staffsus adalah membantu pimpinan dalam mengelola arus data dan informasi di tiga badan hukum milik pondok kita. Baik yang diamal pendidikan, di amal sosial, maupun di amal usaha. Para stafsus kan membantu pimpinan dan pengasuh dalam proses perencanaan, pengarahaan, pengkoordinasian, dan pengawasan. Lewat stafss ini kita semua berharap semua unit usaha bisa bergerak dengan kompak dan rempak sesuai dengan misinya masing-masing.
  3. Ketiga Pimpinan berniat ingin menkonsolidasikan seluruh potensi penerima amanah di Pondok kita ini. Caranya adalah dengan memperbaiki struktur organisasi. Baik stukutur kelembagaan maupun struktur kepemimpinan. Dengan kebijakan ini nanti akan ada minimal 3 strata kepemimpinan eksekutif. Yaitu level I atau eselon I yaitu para direktur amal sholeh. Kemudian level 2 atau eselon II yaitu para kepala sekolah, kepala bidang administrasi dan keuangan di tiap devisi, dan para manajer unit amal sholeh. Serta level 3 atau eselon III yaitu para kepala bagian di unit masing-masing. Para pemimpin itu berkewajiban untuk menggerakan diri sendiri dan menggerakan staff yang ada untuk menjalankan misi amal sholeh di pondok kita.
  4. Keempat Pimpinan berniat untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh keluarga pondok, khususnya para guru dan para pejuang fisabilillah di pondok kita. Caranya adalah dengan membentuk sebanyak-banyaknya unit usaha mandiri yang produktif.
  5. Kelima Pimpinan menekankan pentingnya pondok kita ini dapat memberikan kontribusi yang lebih baik dan lebih besar bagi umat muslim di seluruh Indonesia. Caranya adalah dengan membangun baitulmaal dan membangun gerakan infaq beras di berbagai daerah.
  6. Keenam, pimpinan sedang bersiap-siap untuk membuka cabang PMMAY di berbagai daerah yang dianggap siap. Istilahnya Pondok cabang. Maka para guru, para kepala sekolah harus mampu mengembangkan kualitas. Kita akan mengangkat guru-guru yang berkualitas untuk menjadi wakil pengasuh di berbagai pondok cabang yang akan kita dirikan nantinya. Insyaallah.
  7. Ketujuh pimpinan memberikan penekanan yang besar tentang pentingnya data dan informasi dari seluruh ekosistem dakwah pondok. Maka, seluruh unit amal sholeh di setiap devisi wajib menyetorkan data, data apapun yang diminta oleh pengasuh dan pimpinan melalui staffsus.
  8. Dan terakhir Pimpinan telah menyetujui visi Direktur Amal pendidikan untuk mendirikan KMI sebagaimana KMI di Pondok Modern Darussalam Gontor pada tahun 2023 nanti. Dan mendirikan Universitas bertaraf Internasional pada tahun 2036.

Demikian Wassalammualaikum wr.wb.

 

Berikut beberapa pesan fundamental yang disampaikan oleh para unsur pimpinan lainnya ketika memutuskan beberapa poin penting sebelumnya, setelah sebelumnya Gurunda Beni Sulastyo atau lebih akrab dan dekat di sapa Bung Ben menjabarkan secara rinci bagaiamana arah dan sejauh mana pergerakan kita serta menegaskan dan ingin memastikan bahwa, di pondok ini, di tempat tinggal kita ini,  tak ada orang-orang gila, yaitu orang-orang yang ingin merusak dan merobohkan tempat tinggalnya sendiri.

Mengabdi di sini, di Pondok ini bukanlah mengabdi kepada Lembaga milik orang lain. Tapi mengabdi kepada kepada rumah miliki kita sendiri, milik ummat islam. Pondok ini adalah rumah besar kita, maka mari kita urus dan mari kita kelola sebagaimana mengurus dan mengelola rumah kita sendiri.

Gurunda Adi Pratama Larisindo atau lebih dikenal dengan Bang Een pun menyampaikan hal yang tak kalah penting, tentang bagaimana seharusnya kita meninggalkan peradaban, bukan sekedar perusahaan, apalagi sekedar kekayaan

Karena sejatinya ketika kita mampu meninggalkan peradaban, maka amal jariyah kita otomatis mengalir bahkan ketika kematian menjemput kemudian.

Selanjutnya ketika Gurunda Nur Hasan atau yang lebih dekat di sapa Tok Ya menyampaikan sesuatu, ada kalimat luar biasa yang beliau sampaikan yang akhirnya membuat kita semua sepakati dengan kata taat

“Kemajuan pesat aktivitas dakwah di pondok ini adalah berkah dari Allah. Salah satu asbab Allah berikan keberkahan ini adalah karena semakin tegaknya ketaatan kita semua kepada pimpinan. Nah, saya menggunakan dasi, memakai dress code hari ini  ini sebagai bukti bahwa saya, orang yang mungkin paling sepuh di Majelis ini, juga taat kepada pimpinan dan pengasuh kita. Bahwa saya juga juga akan selalu “sami’na wa atokna”, tambah Gurunda Nur Hasan

“Ingat ya, kita semua harus tetap sami’na wa atokna. Bukan sami’na wa ATOKYA!” tambah beliau  lagi sambil tersenyum simpul.

Dan terakhir pesan dari gurunda Ust Luqmanul Hakim, yang tegas dan berulang menyampaikan bahwa “Jangan Pernah Lompat dari Kapal” dan adab terhadap pemimpin yang selanjutnya belaiu menganalogikan tentang bagaimana menegur imam yang salah ketika sholat berjamaah, bagaimana caranya ???

Tetap menyebut kebesaran Allah (memakai bahasa yang baik) tak mencela apalagi mencari cara buruk untuk menjatuhkan dan menyudutkan. Lantas apakah ketika imam sholat salah maka jamaah harus mundur dari pergi meninggalkan sholat ??

Tentu tidak, karena peran jamaah adalah mengingatkan dan membenarkan kesalahan lantas ketika imam/ pemimpin mampu membenarkan kesalahan maka mari lanjutkan kembali sholat berjamaah nya, dan mari lanjutkan kembali perjuangan ini. Jadi sesekali jangan pernah lompat dari kapal.

Mari bersama mengarungi lautan peradaban bersama rumah kita semua, kapal kita, Munzalan namanya.

 

April 2020

Staf Khusus Bidang Literasi dan Penerbitan